Sinopsis Film Perburuan, Usaha Adipati Lari dari Perburuan

Sinopsis Film Perburuan, Usaha Adipati Lari dari Perburuan

Sinopsis Film Perburuan – Dua buah film yang mengudara di bioskop bulan ini berasal dari mahakarya novel Pramoedya Ananta Toer yaitu Bumi Manusia dan Perburuan. Keduanya digarap apik di bawah naungah Falcon Pictures sebagai pemegang lisensi atas dua novel tersebut. Namun, kali ini akan membahasa tentang Perburuan, film yang bertema perjuangan dan thriller.

Film Perburuan merupakan hasil besutan dari sutradara Richard Oh. Sama halnya dengangn Bumi Manusia, film ini mengadakan gala premier pada hari Kamis (8/8/2019) di Surabaya dan tayang perdana serempak di Indonesia pada hari Kamis (15/8/2019).

Novel Perburuan sendiri merupakan rangkaian kisah tentang bagaimana cara manusia Indonesia berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan zaman penjajahan Jepang. Ya, novel ini mengambil latar waktu saat penjajah Jepang berada di Indonesia, tepatnya saat adanya PETA (Tentara Pembela Tanah Air). Adipati Dolken akan menjadi tokoh sentral dari film garapan Falcon ini. Menggambarkan seorang pasukan PETA yang berjuang untuk menggapai asa kemerdekaan di tengah penghianatan orang-orang terdekatnya.

Sinopsis Film Perburuan dimulai dari Hardo yang merupakan seorang Shodancho (Komandan Peleton) PETA. Dimulai dari Hardo (Adipati Dolken) dan anak buahnya melakukan pemberontakan PETA ke Nippon, namun pemberontakan tersebut gagal. Dia tak menyangka jika nasibnya buruk. Ingin meneruskan perjuangan Supriyadi yang melawan Jepang di Blitar, namun ia terjebak dalam ketidakpastian setelah banyak kawan yang tewas. Dia terjebak dalam ketakutan. Maka ia pun memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya.

Namun, langkah menuju kampung halamannya penuh liku, karena dia mengetahui jika sedang jadi buronan pasukan Jepang. Tak ada cara lain bagi Hardo untuk melarikan diri dan bersembunyi untuk menghindari pasukan Jepang. Pasukan Jepang gencar mencarinya, baik hidup maupun mati, dibuktikan dengan kepala Hardo harus sampai ke pasukan Jepang.

Hardo pun berlari di tengah-tengah keputusasaan, rasa frustasi, kecewa, dan ketakutan yang mendalam kadang menyeruak bagai mimpi buruk. Seperti saat Hardo harus bersembunyi di gua yang berhalusinasi.

Di tengah pelariannya, Hardo menemukan fakta yang mencengangkan. Perburuan pasukan Jepang tak lepas dari campur tangan orang-orang terdekatnya. Para pengkhianat yang ternyata datang dari rekan-rekan seperjuangannya. Pelariannya yang seakan tak berarti ketika rekan-rekannya justru membelot, tak sepaham lagi untuk berjuang untuk kemerdekaan negeri. Sampai orang tua Hardo terkena imbas akibat pelarian dan pemberontakannya.

Bisakah Hardo menerima bahwa ternyata rekan-rekannya lah yang berada di balik perburuannya? Apa yang akan Hardo lakukan untuk tetap berjuang dan keluar dari masalah ini? Siapakah pegkhianat itu sebenarnya? Film ini tak lupa menyentuhkan drama percintaan Hardo dengan Ningsih (Ayushita) dengan cara penceritaan flashback. Selain Adipati Dolken dan Ayushita, film ini juga diramaikan oleh beberapa aktirs dan aktor ternama lainnya seperti Rizky Mocil dan Ernest Samudra.

Narasi dan plot ditata apik menggambarkan latar masa sebelum kemerdekaan. Tone warna yang dipilih sangat baik memvisualisasikan dari buku ke dalam sebuah film. Dengan durasi 98 menit sebenarnya tak cukup untuk menggambarkan semua detail novel Perburuan yang termasuk kategori berat. Namun, Adipati cukup baik membawakan karakteri Hardo. Semua kegelisahan dan kecemasan Hardo digambarkan baik pleh Adipati. Didukung oleh para pemain lain, seperti Ayushita dan Ernest Samudra berhasil membangun kerangka cerita.