Pelarangan Musik dan Hubungannya Dengan Islam

Pelarangan musik Barat di Iran oleh Presiden Ahmadinejad yang berpandangan ultrakonservatif sudah menambah susunan panjang kontroversi kebijakannya, sesudah sebelumnya mengaku penghapusan Israel dari peta dunia dan sejarah Holacoust, pembunuhan jutaan orang Yahudi oleh orang Eropa pada Perang Dunia Kedua, terlampau dibesarkan-besarkan, sedangkan orang Eropa kini tidak mempedulikan penindasan Israel terhadap Palestina. Meskipun pengakuan orang nomor satu di Republik Islam Iran diserang tidak sedikit politisi dan pejabat pemerintahan di Eropa, Amerika dan Australia, dia bergeming sebab pendapatnya dirasakan sebagai kemerdekaan berekspresi yang sejatinya seharusnya dijunjung oleh orang Barat yang gandrung bakal toleransi terhadap perbedaan. Namun, intruksi sang presiden supaya musik Barat tidak dikumandangkan di sebanyak radio dan televisi sudah mengundang protes di dalam negeri, khususnya oleh semua musisi yang mengganggap presiden tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan, sudah memukul balik raisons d’être kemerdekaan yang dijadikan pijakan mantan walikota Teheran ini saat melontarkan pendapat tentang Israel dan Holacoust.

Meskipun pelarangan ini didasarkan pada kepercayaan bahwa musik barat tersebut dekaden, dan mendorong pada apresiasi terhadap musik klasik Iran yang indah. Ironisnya, kepandaian ini mempunyai sifat instruktif yang mesti dipatuhi oleh rakyat Iran (Kompas, 21 Desember 2005) sampai-sampai akan semakin mengucilkan negara ini dari pergaulan internasional sebab telah bersikap represif terhadap kehidupan publik masyarakatnya. Apalagi saat ini banyak yang men-download lagu secara bebas di Internet karena kemajuan teknologi.

Hubungan Islam dan Musik
Sebenarnya dalam sejarah pemikiran Islam, tidak sedikit pemikir muslim yang telah mencetuskan teori musik, di antaranya Al-Farabi dengan bukunya Kitab al-musiqi al-kabir (Buku Tentang Musik Agung), figur yang dijadikan nama sekolah musik Dwiki Darmawan, sudah memberi ilham perkembangan musik dalam Islam, meskipun dalam sejarahnya penerimaan terhadap musik terpecah ke dalam dua kubu: pro dan kontra. Memang, di dalam di antara varian pemikiran Islam terdapat kumpulan yang mengharamkan musik sebab akan memalingkan insan beriman dari Tuhan. Tetapi, beberapa besar ulama menerima dengan kriteria, laksana ditulis Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin, untuk menambah ibadah, memacu motivasi untuk berperang, memunculkan keberanian pada masa perang, memunculkan kesenangan, menyebabkan cinta dan kecintaan serta mencetuskan cinta pada Tuhan, sementara musik tersebut dilarang saat ia suarakan oleh wanita dalam situasi tertentu, alatnya jelas-jelas dilarang, pelajaran lagu berlawanan dengan motivasi dan doktrin agama, penikmatnya dikuasai nafsu dan mendengar musik guna musik tersebut sendiri.

Tentu saja, rumusan ini tidak dapat dijadikan acuan yang ketat sebab apresiasi dan kebiasaan masyarakat mengenai ibadah, kesukaan dan selera tersebut berbeda, sampai-sampai bentuk-bentuk musik yang didaku melanggar doktrin agama dapat multitafsir. Musik, menurut keterangan dari kalangan sufi, ialah sebagai sarana mendekatkan diri pada Tuhan, contohnya dalam ordo darwish Jalaluddin Rumi, sementara untuk kalangan ortodoks haram, laksana dianut oleh tidak sedikit kaum puritan di Saudi Arabia. Bahkan, bukankah Sunan Bonang menyebarkan doktrin Islam di Jawa melewati musik?

Lebih jauh, menurut keterangan dari Ammon Shiloah dalam Music in the World of Islam: A socio-Cultural Study (1995), relasi Islam dan musik itu sehubungan dengan sistem pemikiran, yang meminjam pemikiran Max Weber, dengan arti teologis dari konsepsi insan tentang dirinya dan lokasinya di jagad ini, konsepsi yang melegitimasi orientasi insan di dan guna dunia serta menyerahkan makna pada beragam tujuannya. Betapa kompleksitasnya musik dalam ranah sosial kehidupan masyarakat.

Iran ialah salah satu negara Islam yang memiliki sejarah panjang pasang surut agama sebagai legitimasi keputusan politik, yang sebelumnya pernah diperintah oleh rezim sekuler dan kesudahannya ditumbangkan oleh kaum agamawan di bawah Ayatollah Khomeini. Sejak rezim ulama berkuasa, maka segala yang berbau Barat, laksana musik dan fashion dibredel atas nama kemurniaan doktrin agama dan nilai lokal. Setelah kepemimpinan dipungut oleh ulama moderat, maka upaya Khomeini guna membendung kebiasaan Barat sudah mulai luntur, dengan maraknya musik dan fashion Barat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Tampaknya, presiden baru Iran ini hendak mengembalikan cita-cita revolusi Khomeini supaya pengaruh Barat benar-benar dihilangkan dalam kehidupan publik bangsa Iran.

Motif Pelarangan
Secara sederhana, penolakan terhadap musik barat oleh penguasa Iran dapat dikatakan bernuansa politik dampak tekanan Barat terhadap isu Nuklir Iran dan pesanan dominasi klerus yang adalahbasis sokongan presiden. Sebagaimana kata rekan saya di program doktor Ilmu Humaniora USM, Nematollah Azadmanesh, bahwa radio dan televisi di dalam konstitusi Iran sedang di bawah legislasi pemimpin spiritual, Ayatullah Khameini, maka wajar andai keputusan ini diinstruksikan dan bakal dievaluasi pelaksanaannya dalam enam bulan ke depan.

Namun demikian, laksana ditulis oleh Ella Zonis dalam Classical Persian Music: An Introduction (1973), bahwa musik Iran sebenarnya tidak sedikit dipengaruhi oleh Islam, tetapi ia pun sangat diprovokasi serangan tidak sedikit penakluk lain, laksana bangsa Turki dan Mongol pada abad ketujuh sampai kelimabelas, di mana tidak sedikit musisi tercebur dalam ordo sufi sebagai respon terhadap penaklukan, tergolong pengaruh Barat kini ini telah mencetuskan teori dan praktik musik. Ini berarti Iran tidak dapat mengingkari hubungan dengan negara luar.

Kebijakan yang tidak populer ini sebetulnya memperoleh sokongan dari konstituen domestik sendiri, sebagaimana terlukis dalam suatu obrolan dengan salah seorang mahasiswa Iran di Malaysia, bahwa musik tradisional Iran tersebut lebih cocok dengan karakter jati diri mereka dan musik Barat sudah meracuni benak generasi muda. Dengan lugas, dia berbicara bahwa western music is corrupted and be able to destroy young generation mind.

Peristiwa kontroversial di negeri semua Mullah ini pernah hadir dalam format yang berbeda, yaitu permasalahan Rhoma vs Inul, di mana perseteruan dua-duanya telah mencetuskan polarisasi dalam menyaksikan relasi musik dan norma (yang seringkali dalam perspektif agama). Akan tetapi, bertolak belakang dengan Iran di mana ekspresi musik Barat dilarang atas nama kebaikan dan mengawal kemurniaan cita-cita revousioner, di sini negara tidak ikut campur terlampau jauh, meskipun melewati pelbagai peraturan sehubungan dengan hiburan (termasuk musik) sudah mengebiri kemerdekaan seniman guna menuangkan kreativitasnya, selain tersebut elemen beda dalam masyarakat pun telah menjadi hakim untuk kehidupan berkesenian, seperti permasalahan pada Ahmad Dani dan Desi Ratnasari. Lalu, anda sendiri memilih yang mana?