Tak Disadari, Hamil Tanpa Gejala Apapun, Normalkah?

Ibu hamil pasti merasakan beberapa perubahan yang terjadi pada dirinya. Beberapa gejala yang muncul bahkan membuat ibu hamil merasa tidak nyaman dan kesulitan. Beberapa ibu lainnya bahkan merasakan bahwa hamil adalah masa yang sangat menyakitkan. Namun adakah ibu hamil yang hamil tanpa gejala apapun?

Memang tidak banyak ibu hamil yang tidak merasakan gejala-gejala hamil seperti mual, pusing, dan muntah-muntah seperti yang terjadi pada ibu hamil pada umumnya. Perubahan hormon dalam tubuh manusia umumnya akan mempengaruhi banyak hal dalam tubuh ibu hamil sehingga tak jarang terjadi perubahan pada fisik dan psikis ibu hamil.

Jika ibu hamil tidak merasakan perubahan dan gejala gejala yang biasa dirasakan ibu hamil, kehamilan tersebut juga tetap termasuk kehamilan yang normal. Hal ini dikarenakan hormon kehamilan memiliki reaksi berbeda pada tubuh wanita.

Beberapa ibu hamil akan merasakan mual, tapi ada pula yang tak mengalaminya sama sekali. Ada yang menjadi lemas dan gampang lelah saat hamil, namun ada pula yang makin penuh semangat ketika hamilPerbedaan kondisi ini juga dipengaruhi oleh kondisi tubuh masing-masing ibu hamil.

Jika ibu hamil tanpa gejala apapun tentu perbedaan tersebut tidak berarti. Jika dokter mengatakan Anda sehat dan janin sehat, tentu tak ada yang perlu dikhawatirkan. Anda hanya perlu melakukan kegiatan seperti biasa sambil mengikuti anjuran dokter agar kehamilan Anda sehat dan lancar sampai persalinan.

Tidak merasakan tanda-tanda kehamilan tertentu adalah hal normal dan bukan pertanda bahwa janin bermasalah. Beberapa ibu yang hamil juga baru merasakan gejala kehamilan saat mencapai usia kandungan 7 minggu atau bahkan hingga akan melahirkan tidak merasakan gejala apapun.

Bagi beberapa ibu, gejala kehamilan muncul secara perlahan, ada pula yang muncul tiba-tiba tanpa peringatan. Gejala kehamilan setiap wanita pada dasarnya berbeda-beda jadi Anda bisa memeriksakan diri pada dokter apabila ada yang aneh.

Anda mungkin belum merasakan gejala apapun jika usia kehamilan masih muda karena embrio calon bayi baru menempel di dinding rahim 6-12 hari setelah ovulasi. Selama masa ini, tubuh Anda tidak menyadari perubahan apapun, sehingga tidak menunjukkan gejala kehamilan. Bisa jadi gejalanya akan muncul ketika memasuki trimester kedua atau bahkan ketiga.

Jika Anda merasa cemas akan kehamilan, Anda bisa melakukan USG untuk memastikan bahwa janin tumbuh dengan sehat meskipun Anda tidak merasakan tanda kehamilan sama sekali. Tetaplah mengonsumsi vitamin kehamilan dan makanan sehat.

Hamil tanpa gejala apapun merupakan hal yang normal. Hanya saja tidak dirasakan semua ibu hamil. Hanya sebgaian kecil yang tidak merasakan kesulitan dan perubahan saat hamil. Tetap penuhi gizi dan nutrisi untuk ibu hamil dan janin dengan mengonsumsi multivitamin yang dapat Anda pilih di orami.co.id. Jangan lupa belanja kebutuhan ibu dan bayi di orami.co.id!

Bila Anak Berkelahi Dengan Temannya Bagian 2

originals.id – Jika di rumah Mama Papa sering bertengkar mengeluarkan kata-kata kasar, “main tangan” , maka anak akan dengan mudah mencontohnya. Demikian pula jika sehari-hari anak menyaksikan tayangan kekerasan. Berkaitan dengan cara mengungkapkan kemarahan, ada juga anak yang justru menarik diri ketika ia marah. Artinya, bukannya marah-marah atau memukul, ia justru diam. Sering kali kemarahannya diungkapkan dengan mencorat-coret buku atau meja.

Mana pun dari salah satu cara tersebut yang ditunjukkan anak, permasalahan dasarnya adalah ketidakmampuan mereka untuk mengekspresikan rasa marah dengan cara dan kata-kata yang tepat. Inilah poin penting yang harus segera disadari, baik oleh Mama Papa maupun guru.

Anak yang berkelahi atau berkata-kata kasar kepada temannya cenderung merasa percaya diri, sementara anak yang menarik diri ketika marah cenderung tidak percaya diri. Kewajiban Mama Papalah untuk menempatkan harga diri anak pada tingkat yang sewajarnya. Setelah ia memahami kesetaraan dirinya dengan teman-teman di sekitarnya, anak lebih mudah belajar bernegosiasi.

Jangan Terpancing

Ketika melihat anak berkelahi atau bertengkar, Mama Papa maupun guru perlu segera melerai. Pisahkan mereka dan biarkan masing-masing menenangkan diri. Ada saran, sebaiknya saat memisahkan, langsung menjauh, bila perlu tidak saling melihat. Intinya, jangan berikan kesempatan untuk terjadinya pemicu rasa marah. Seperti juga orang dewasa, jangan memaksa berbicara dengan mereka ketika rasa marah masih menguasai. Kalau masih marah, siapa pun pasti sulit diajak bicara. Di sinilah kematangan Mama Papa dan guru diuji.

Ketika menghadapi anak yang sedang emosi, orang dewasa sebaiknya tidak terpancing menaikkan suaranya. Memang tidak mudah mengatur emosi melihat anak sedang bertengkar. “Kalau anak saya yang menjadi objek, tentu rasanya Mama Papa tidak terima dan ingin membela. Bahkan kalau perlu, saya ingin turun tangan,” ujar Annisa, ibu dua anak, “Tetapi kalau anak saya yang menyebabkan keributan itu, ada juga rasa tidak enak kepada orang lain. Mungkin juga rasa malu karena anak sayalah yang menyebabkan kekacauan itu, sehingga rasanya saya ingin memarahi anak saya.” Sikap emosional orangtua hanya akan memperburuk keadaan.

Demikian pula keluarga besar. Tidak perlu mengompori anak dengan menyebutnya jagoan. Pun, tidak karena ia anak laki-laki lantas boleh berkelahi dengan siapa saja. Sebagai orangtua, Anda perlu membatasi keterlibatan keluarga besar dalam memberikan dorongan kepada si kecil, terutama yang tidak sesuai dengan pola pengasuhan Mama Papa. Hal paling penting adalah mengajari anak bahwa berkelahi atau bertengkar tidak menjamin penyelesaian masalah.

Anak perlu belajar bahwa ia dapat mengungkapkan emosinya melalui kata-kata yang baik sehingga orang lain memahami apa yang ia butuhkan. Kita berharap dengan penanaman nilai-nilai ini, kejadian menyedihkan seperti tewasnya bocah kelas 1 SD yang dikeroyok oleh 3 teman sekelasnya di Makassar, tidak akan pernah terjadi lagi.

Bila Anak Berkelahi Dengan Temannya

generasimaju.com – Mama Shinta dibuat pusing kepala karena kerap mendapat laporan bahwa anaknya berkelahi. Sepertinya selalu saja ada alasan bagi anak lelakinya ini untuk berkelahi: berebut mainan, tidak mau antre, kerap meledek teman, dan seterusnya. Di lain pihak, kegelisahan si ibu seperti tidak mendapat tempat, karena kakek-nenek si anak justru berkata, “Anak laki-laki, wajar saja kalau berkelahi…” Bahkan si kakek justru berbangga hati dan menganggap cucunya sebagai jagoan. Familiar dengan cerita tersebut?

Mengapa Berkelahi?

Menginjak usia prasekolah, si kecil memang terus memperluas ruang pergaulannya. Dari keluarga inti, keluarga besar, tetangga, teman di taman bermain, dan seterusnya. Semakin banyak teman, semakin terasah kemampuan bersosialisasinya. Namun, tak jarang hal itu justru mengundang perselisihan, karena masing-masing anak pun masih dalam tahap mengembangkan kemampuan bersosialisasi dan berbagi. Di kelas prasekolah, biasanya hal-hal yang menimbulkan kon­ ik adalah soal berebut sesuatu. Maklum, si prasekolah masih berada dalam tahapan egosentris.

Apa pun yang menjadi keinginannya akan diidentikkan dengan dirinya, sehingga ia tidak mau berbagi dengan anak lain. Sikap posesif ini tidak hanya kepada benda, tetapi juga kepada orang. Seorang anak bisa saja menjadi marah dan berkelahi hanya karena si A bermain dengan si B, padahal menurut si anak, si A harusnya bermain dengan dirinya. Penyebab lain adalah karena si anak belum dapat menunggu giliran. Ia sudah ingin bermain dengan satu benda, sementara benda itu masih dimainkan oleh anak lain.

Atau, ketika mengantre kamar kecil, misalnya, ia menyerobot teman di depannya karena antreannya masih panjang. Bisa jadi hal ini merupakan ”ajaran” yang dibawanya dari rumah. Ketika di rumah Mama Papa mengajari anaknya untuk selalu nomor satu, selalu mendapatkan apa yang ia mau, hal ini akan dibawanya ke lingkungan pergaulan. Perilaku egosentris ini memengaruhi perkembangan emosi karena anak tidak belajar untuk mengontrol keinginannya.

Fisik Vs Verbal

Gaya berkelahi yang paling umum ditemukan pada anak prasekolah cenderung menggunakan fisik seperti mendorong, memukul, bahkan menendang. Cara ini dianggap fatal karena berpotensi menyakiti orang lain, terutama karena anak pun belum dapat mengendalikan motorik kasarnya dengan baik, serta belum dapat mengontrol energi yang dikeluarkannya. Sering terjadi anak merasa pukulannya tidak terlalu keras, tetapi lawannya mendapat lebam di tempat yang dipukul. Cara berkelahi lainnya adalah secara verbal, dengan mengeluarkan kata-kata kasar kepada temannya.

Masalahnya, perbendaharaan kata anak pun masih terbatas dan ia belum tahu mana kata-kata yang tidak pantas diucapkan kepada orang lain. Berkelahi secara fisik maupun verbal bisa jadi merupakan satu-satunya cara yang diketahui anak untuk mengungkapkan kemarahannya. Bahwa ia memilih berkelahi atau mengucapkan kata-kata kasar, dipelajarinya dari lingkungan terdekat. Pada usia ini anak memang merupakan pengamat dan peniru ulung. Yang ditiru, tidak lain dan tidak bukan adalah orangtua atau tontonan lain di rumah.

Tahap Perkembangan Kognitif Anak

sat-jakarta.com – Bagian ini merupakan sekilas perkembangan kognitif batita. Silakan cek sampai sejauhmana perkembangan kognitif si kecil!

* Mulai usia 13 bulan, ia mulai mengamati lingkungan sekitar dan bisa memetik berbagai pelajaran dari situ. Ia juga tahu kalau barang itu bisa dipindahkan. Ketika melihat Mama menggeser vas bunga, ia akan mencoba ikutikutan memindahkan benda tersebut. Atau ketika Mama merapikan sandal/sepatu, si batita akan “merapikan” juga meski pada praktiknya malah membuat tambah “berantakan”.

* Pada usia 14 bulan, si kecil sudah mengarahkan daya pikirnya terhadap suatu benda (ia bisa tekun memerhatikan mainan tertentu, bukan?). Ini juga memperlihatkan si batita bisa berkonsentrasi, meski rentangnya masih pendek (sekitar 10 menit).

* Sekitar usia 17 bulan, kemampuan mengamatinya sudah berkembang menjadi kemampuan meniru. Di usia 19 bulan, anak sudah banyak meniru perilaku orangtuanya. N Mulai usia 18 bulan, anak mulai menampakkan kemampuan berimajinasi untuk memikirkan benda yang tidak dilihatnya. Contoh, ia senang bermain peran.

* Anak mampu berpikir antisipatif di usia 21–23 bulan. Ia tidak sekadar mengimajinasikan benda yang tidak ada di hadapannya, lebih jauh lagi dia mulai dapat mengantisipasi dampak yang akan terjadi pada hal yang dilakukannya. Contoh, anak akan berusaha menghindar pada objek yang tidak disukai, atau pada posisi yang membuat anak berisiko untuk jatuh. Bila anak bertemu dengan orang yang tidak dikenal dia akan menghindar atau menangis atau berteriak.

* Di usia 2—3 tahun anak memiliki kemampuan menggunakan simbol berupa kata-kata dengan menamai suatu objek sesuai dengan yang dia mengerti.

* Anak mampu menyusun balok sesuai urutan besarnya dan mengetahui perbedaan antara satu dengan beberapa (kemampuan menghitung).

* Sekitar usia 2 tahun, anak dapat mengingat kembali kejadian-kejadian menyenangkan yang terjadi sebelumnya. Ia juga dapat memahami dan mengingat dua perintah sederhana yang disampaikan bersama-sama. N Ketika mencapai usia 18 bulan, anak memahami “waktu”, yaitu pemahaman “sebelum” dan “sesudah”. Selanjutnya pemahaman “hari ini”.

* Pada usia 2,5 tahun, anak mulai memahami pengertian “besok”, disusul dengan “kemarin” dan pengertian hari-hari selama seminggu di usia 3 tahun.

* Mendekati usia ketiga, kemampuan anak semakin kompleks. Anak mulai menggunakan objek subtitusi dari benda sesungguhnya. Misal, ia menyusun bantal- bantal sehingga menyerupai mobil dan dianggapnya sebagai mobil balap.

* Si batita dapat mengelompokkan mainannya berdasarkan bentuk; mobil-mobilan ia satukan dengan mobilmobilan, bonekanya ia kelompokkan dengan boneka lainnya.

Cara Cek Tonggak Perkembangan Anak

Setiap hari, seharusnya ada saja lompatanlompatan perkembangan si batita. Selain bikin bangga, apa yang ia lakukan mungkin saja bikin waswas. Nah, agar Mama Papa bisa tersenyum lebar menikmati momen perkembangannya, baca daftar berikut ini. Salah satu perkembangan yang pesat pada usia batita adalah keterampilan berbahasa. Seperti apa sih itu?

1. “Mama…!” tapi kok menunjuk kursi? Pada usia 1—1,6 tahun, si batita sudah bisa mengekspresikan keinginan dengan menggunakan satu kata yang cenderung diulangulang. Namun kata tersebut belum dalam arti sebenarnya. Contoh, ia mengucapkan kata “Mama… mama…” atau “Papa… papa…” sambil menunjuk kursi. Yang sebenarnya ingin dikatakannya adalah “Aku mau duduk di kursi itu” atau “Ayo kita duduk di kursi itu.”

2. Ingin tahu nama sesuatu. Di usia 1,6—2 tahun si kecil selalu ingin mengetahui nama sesuatu. Tak bosan ia akan bertanya “Ini apa?” “Itu apa?”. Tugas orangtua tentu menjawab segala pertanyaan itu. Fase perkembangan ini menunjukkan bahwa anak mulai sadar bahwa setiap benda memiliki nama. Semakin banyak informasi yang diperolehnya, kosakatanya semakin bertambah dan kelak akan membuatnya piawai berbahasa. Anak juga sudah menggunakan kalimat gabungan dari 2—3 kata. Perbendaharaan katanya bisa mencapai 50. Namun jika anak tampak mengalami “sulit” bicara (seperti terdengar gagap atau terpatahpatah), sekali lagi, ini sepenuhnya normal terkait kemajuan berpikirnya yang masih lebih cepat ketimbang perkembangan bahasanya.

3. Masa kalimat tunggal (usia 2—2,5 tahun). Batita semakin baik dalam berbahasa dan menyusun kalimat. Ia mampu menggunakan awalan dan akhiran yang membedakan bentuk dan warna bahasanya. Ia juga sering melontarkan kata-kata sendiri yang lucu kedengarannya. Contoh, “mobil” dibilang “obin”, “mobbing” atau bahkan “mbem”. Kata “stasiun” dibilang “tatun”. “Handuk” jadi “adun”. “Kucing” jadi “empus”.

4. Masa kalimat majemuk (usia 2,5 tahun dan seterusnya). Mampu mengucapkan kalimat panjang dengan semakin baik. Bahkan si batita mulai menggunakan kalimat majemuk, contoh, “Aku haus mau minum.” Di masa ini pertanyaan yang diajukannya semakin banyak. HIngga usia 36 bulan, perbendaharaan kata anak dapat mencapai 1.000 dengan 80% kata-kata tersebut dapat dipahaminya. Si batita juga mulai banyak berbicara mengenai orang di sekitarnya, terutama Mama, Papa, dan anggota keluarga lainnya. Seperti “Papa kerja”, “Mama cantik”, “Kakek bobok”.

Untuk stimulasi, ini yang Mama Papa bisa dilakukan: Usia 1—2 tahun * Manfaatkan bonus ?ash card dari nakita. Tunjukkan gambar (binatang, buah-buhan, dan lain-lain) sambil dijelaskan nama gambarnya “anjing” atau “apel”, dan sebagainya. * Sering-seringlah mengajak mengobrol si batita. Jangan lupa untuk mengucapkan kata-kata “ajaib”, seperti “Terima kasih, Sayang,” atau “Tolong ambilkan bola itu dong, Sayang.” * Pasel angka sederhana juga bisa diperkenalkan. Lakukan aktivitas berhitung secara verbal sampai ia dapat mengidentifkasi bentuk dari sebuah angka. Untuk memperkenalkan warna dimulai dengan aktivitas menyamakan warna, bisa menggunakan media permainan bola-bola, balok-balok juga pasel. – Usia 2—3 tahun Untuk menambah kosakata dan informasi pada si kecil, kita bisa bercerita tentang apa saja, termasuk menyebutkan nama anggota keluarga dan alamat rumah secara sederhana.

Mengapa Disebut Masa Emas?

Rentang usia 1—3 tahun menjadi “masa emas” terkait pesatnya perkembangan yang terjadi di usia ini. Dari area perkembangan motorik (halus dan kasar) hingga perkembangan bicara-bahasa pada buah hati. Dilihat dari perkembangan otaknya pun sangat pesat. Ketika lahir, berat otak anak adalah 27% dari berat otak seorang dewasa. Pada usia 2 tahun, berat otak sudah mencapai 90% dari berat otak orang dewasa. Artinya, pada usia ini perkembangan otak begitu pesat. Tepatlah bila dikatakan, di masa emas ini berbagai area perkembangan sang buah hati perlu dioptimalkan. Dan pada saat diusia inilah anak dapat dengan mudah menyerap semua pembelajaran yang diberikan terutama masalah bahasa. Lembaga les pelatihan bahasa asing online terbaik bisa menjadi pilihan jika dirasa dapat memberikan pelajaran di rumah. Selain itu dapat dipantau bagaimana perkembangannya dalam menyerap hal baru.