Bila Anak Berkelahi Dengan Temannya

generasimaju.com – Mama Shinta dibuat pusing kepala karena kerap mendapat laporan bahwa anaknya berkelahi. Sepertinya selalu saja ada alasan bagi anak lelakinya ini untuk berkelahi: berebut mainan, tidak mau antre, kerap meledek teman, dan seterusnya. Di lain pihak, kegelisahan si ibu seperti tidak mendapat tempat, karena kakek-nenek si anak justru berkata, “Anak laki-laki, wajar saja kalau berkelahi…” Bahkan si kakek justru berbangga hati dan menganggap cucunya sebagai jagoan. Familiar dengan cerita tersebut?

Mengapa Berkelahi?

Menginjak usia prasekolah, si kecil memang terus memperluas ruang pergaulannya. Dari keluarga inti, keluarga besar, tetangga, teman di taman bermain, dan seterusnya. Semakin banyak teman, semakin terasah kemampuan bersosialisasinya. Namun, tak jarang hal itu justru mengundang perselisihan, karena masing-masing anak pun masih dalam tahap mengembangkan kemampuan bersosialisasi dan berbagi. Di kelas prasekolah, biasanya hal-hal yang menimbulkan kon­ ik adalah soal berebut sesuatu. Maklum, si prasekolah masih berada dalam tahapan egosentris.

Apa pun yang menjadi keinginannya akan diidentikkan dengan dirinya, sehingga ia tidak mau berbagi dengan anak lain. Sikap posesif ini tidak hanya kepada benda, tetapi juga kepada orang. Seorang anak bisa saja menjadi marah dan berkelahi hanya karena si A bermain dengan si B, padahal menurut si anak, si A harusnya bermain dengan dirinya. Penyebab lain adalah karena si anak belum dapat menunggu giliran. Ia sudah ingin bermain dengan satu benda, sementara benda itu masih dimainkan oleh anak lain.

Atau, ketika mengantre kamar kecil, misalnya, ia menyerobot teman di depannya karena antreannya masih panjang. Bisa jadi hal ini merupakan ”ajaran” yang dibawanya dari rumah. Ketika di rumah Mama Papa mengajari anaknya untuk selalu nomor satu, selalu mendapatkan apa yang ia mau, hal ini akan dibawanya ke lingkungan pergaulan. Perilaku egosentris ini memengaruhi perkembangan emosi karena anak tidak belajar untuk mengontrol keinginannya.

Fisik Vs Verbal

Gaya berkelahi yang paling umum ditemukan pada anak prasekolah cenderung menggunakan fisik seperti mendorong, memukul, bahkan menendang. Cara ini dianggap fatal karena berpotensi menyakiti orang lain, terutama karena anak pun belum dapat mengendalikan motorik kasarnya dengan baik, serta belum dapat mengontrol energi yang dikeluarkannya. Sering terjadi anak merasa pukulannya tidak terlalu keras, tetapi lawannya mendapat lebam di tempat yang dipukul. Cara berkelahi lainnya adalah secara verbal, dengan mengeluarkan kata-kata kasar kepada temannya.

Masalahnya, perbendaharaan kata anak pun masih terbatas dan ia belum tahu mana kata-kata yang tidak pantas diucapkan kepada orang lain. Berkelahi secara fisik maupun verbal bisa jadi merupakan satu-satunya cara yang diketahui anak untuk mengungkapkan kemarahannya. Bahwa ia memilih berkelahi atau mengucapkan kata-kata kasar, dipelajarinya dari lingkungan terdekat. Pada usia ini anak memang merupakan pengamat dan peniru ulung. Yang ditiru, tidak lain dan tidak bukan adalah orangtua atau tontonan lain di rumah.