Bila Anak Berkelahi Dengan Temannya Bagian 2

originals.id – Jika di rumah Mama Papa sering bertengkar mengeluarkan kata-kata kasar, “main tangan” , maka anak akan dengan mudah mencontohnya. Demikian pula jika sehari-hari anak menyaksikan tayangan kekerasan. Berkaitan dengan cara mengungkapkan kemarahan, ada juga anak yang justru menarik diri ketika ia marah. Artinya, bukannya marah-marah atau memukul, ia justru diam. Sering kali kemarahannya diungkapkan dengan mencorat-coret buku atau meja.

Mana pun dari salah satu cara tersebut yang ditunjukkan anak, permasalahan dasarnya adalah ketidakmampuan mereka untuk mengekspresikan rasa marah dengan cara dan kata-kata yang tepat. Inilah poin penting yang harus segera disadari, baik oleh Mama Papa maupun guru.

Anak yang berkelahi atau berkata-kata kasar kepada temannya cenderung merasa percaya diri, sementara anak yang menarik diri ketika marah cenderung tidak percaya diri. Kewajiban Mama Papalah untuk menempatkan harga diri anak pada tingkat yang sewajarnya. Setelah ia memahami kesetaraan dirinya dengan teman-teman di sekitarnya, anak lebih mudah belajar bernegosiasi.

Jangan Terpancing

Ketika melihat anak berkelahi atau bertengkar, Mama Papa maupun guru perlu segera melerai. Pisahkan mereka dan biarkan masing-masing menenangkan diri. Ada saran, sebaiknya saat memisahkan, langsung menjauh, bila perlu tidak saling melihat. Intinya, jangan berikan kesempatan untuk terjadinya pemicu rasa marah. Seperti juga orang dewasa, jangan memaksa berbicara dengan mereka ketika rasa marah masih menguasai. Kalau masih marah, siapa pun pasti sulit diajak bicara. Di sinilah kematangan Mama Papa dan guru diuji.

Ketika menghadapi anak yang sedang emosi, orang dewasa sebaiknya tidak terpancing menaikkan suaranya. Memang tidak mudah mengatur emosi melihat anak sedang bertengkar. “Kalau anak saya yang menjadi objek, tentu rasanya Mama Papa tidak terima dan ingin membela. Bahkan kalau perlu, saya ingin turun tangan,” ujar Annisa, ibu dua anak, “Tetapi kalau anak saya yang menyebabkan keributan itu, ada juga rasa tidak enak kepada orang lain. Mungkin juga rasa malu karena anak sayalah yang menyebabkan kekacauan itu, sehingga rasanya saya ingin memarahi anak saya.” Sikap emosional orangtua hanya akan memperburuk keadaan.

Demikian pula keluarga besar. Tidak perlu mengompori anak dengan menyebutnya jagoan. Pun, tidak karena ia anak laki-laki lantas boleh berkelahi dengan siapa saja. Sebagai orangtua, Anda perlu membatasi keterlibatan keluarga besar dalam memberikan dorongan kepada si kecil, terutama yang tidak sesuai dengan pola pengasuhan Mama Papa. Hal paling penting adalah mengajari anak bahwa berkelahi atau bertengkar tidak menjamin penyelesaian masalah.

Anak perlu belajar bahwa ia dapat mengungkapkan emosinya melalui kata-kata yang baik sehingga orang lain memahami apa yang ia butuhkan. Kita berharap dengan penanaman nilai-nilai ini, kejadian menyedihkan seperti tewasnya bocah kelas 1 SD yang dikeroyok oleh 3 teman sekelasnya di Makassar, tidak akan pernah terjadi lagi.